SURABAYA – Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya mengukuhkan Prof Dr Sularsih, drg, M.Kes, FICD sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi UHT.
Pengukuhan berlangsung melalui Sidang Terbuka Senat Universitas Hang Tuah di Gedung Graha Samudera UHT, Kampus Laut Biru, Surabaya, Rabu (12/8/2026).
Sejumlah tokoh dan pejabat menghadiri prosesi tersebut. Di antaranya Ketua Pengurus Yayasan Nala, Anggota Pembina Bidang Umum Yayasan Nala, serta Ketua Pengawas Yayasan Nala.
Turut hadir Direktur Pendidikan Kodiklatal yang mewakili Komandan Kodiklatal. Gubernur AAL juga diwakili Sekretaris Lembaga AAL
Selain itu, hadir perwakilan Komandan STTAL. Hadir pula Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur ., serta Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya.
Prosesi pengukuhan juga dihadiri perwakilan Kepala RSPAL dr. Ramelan, Kalakesla, Kepala Departemen Gigi dan Mulut, para Guru Besar, pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, sivitas akademika UHT, serta keluarga besar Prof Sularsih.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Sularsih menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Pemanfaatan dan Potensi Bahan Alam Laut (Kitosan) yang Mendukung Pengembangan Material yang Inovatif di Bidang Kedokteran Gigi.”
Rektor UHT Dr Ir Avando Bastari, M.Phil., M.Tr.Opsla., IPM., ASEAN Eng. mengatakan pengukuhan Guru Besar bukan sekadar bertambahnya jumlah profesor di lingkungan UHT. Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan tambahan kekuatan intelektual dan pusat keunggulan keilmuan universitas.
“Hari ini bukan semata-mata tentang bertambahnya satu Guru Besar. Hari ini adalah tentang bertambahnya satu kekuatan intelektual Universitas Hang Tuah, bertambahnya satu pusat keunggulan keilmuan, dan yang lebih penting, bertambahnya tanggung jawab kita untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Avando.
Avando menilai orasi ilmiah Prof Sularsih memiliki keterkaitan kuat dengan identitas UHT sebagai perguruan tinggi yang berakar pada kemaritiman.
Dalam penelitiannya, Prof Sularsih mengembangkan pemanfaatan kitosan yang berasal dari bahan alam laut, seperti cangkang udang, kepiting dan lobster. Material tersebut kemudian dikembangkan menjadi biomaterial yang berpotensi digunakan dalam bidang kedokteran gigi.
Menurut Avando, penelitian tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat mengubah sesuatu yang sebelumnya dipandang sebagai limbah menjadi sumber nilai baru.
“Ilmu pengetahuan mampu mengubah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi sumber nilai baru. Inilah hakikat inovasi dan salah satu wajah ekonomi biru berbasis ilmu pengetahuan yang perlu terus kita kembangkan di Universitas Hang Tuah,” ujarnya.
Penelitian Prof Sularsih juga mengembangkan kombinasi kitosan dan Aloe vera untuk mendukung regenerasi tulang alveolar melalui teknologi biomaterial scaffold.
Scaffold merupakan material biokompatibel yang dirancang sebagai kerangka tiga dimensi untuk mendukung pertumbuhan, perlekatan, proliferasi dan diferensiasi sel dalam pembentukan jaringan tulang baru.
Hasil penelitian tersebut telah menghasilkan dua Paten Sederhana terkait scaffold kombinasi kitosan dan Aloe vera beserta proses pembuatannya.
“Inilah arah riset yang kita inginkan di Universitas Hang Tuah: dari penelitian menuju inovasi, dari inovasi menuju hilirisasi dan dari hilirisasi menuju kemanfaatan,” tegasnya.

Kemaritiman Tak Hanya soal Kapal
Avando mengatakan kemaritiman tidak boleh dipahami secara sempit hanya mengenai kapal, pelabuhan atau teknologi kelautan.
Menurutnya, kemaritiman merupakan ekosistem keilmuan yang mencakup teknologi, kesehatan, kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, psikologi, hukum, ekonomi, sosial dan berbagai disiplin ilmu lainnya.
Karena itu, UHT mendorong semakin banyak penelitian yang berangkat dari kekayaan sumber daya laut Indonesia dan dikembangkan melalui kolaborasi lintas disiplin.
“Laut Indonesia jangan hanya menjadi objek yang kita banggakan. Laut harus menjadi sumber ilmu pengetahuan, sumber inovasi yang diakui dan dimanfaatkan oleh komunitas ilmiah global serta sumber kesejahteraan. Dan hari ini, Prof Sularsih telah menunjukkan salah satu jalannya,” kata Avando.
Dorong Regenerasi Guru Besar
Rektor juga meminta Guru Besar yang dikukuhkan tidak berhenti pada pencapaian akademik personal. Guru Besar diharapkan mampu membangun ekosistem riset, melahirkan peneliti baru, memperluas kolaborasi, serta membimbing dosen-dosen muda.
“Warisan terbesar seorang Guru Besar pada akhirnya bukan hanya berapa banyak artikel yang ditulis atau paten yang dihasilkan. Warisan terbesar seorang Guru Besar adalah ilmu yang terus hidup dan generasi akademik yang tumbuh sesudahnya,” ujarnya.
Prof Sularsih diketahui telah mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Gigi UHT sejak 2005.
Avando juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga Prof Sularsih yang selama perjalanan akademiknya telah memberikan dukungan, doa, kesabaran dan pengorbanan.
Ia berharap Prof Sularsih terus mengembangkan kepakaran dan risetnya sejalan dengan roadmap UHT, khususnya pada bidang marine medicine, biomaterial, regenerative dentistry dan blue economy.
“Dari laut kita menemukan sumber daya. Melalui ilmu kita menciptakan nilai. Dan melalui pengabdian, kita menghadirkan kemanfaatan bagi bangsa,” pungkas Avando.
Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari upaya UHT memperkuat tradisi akademik dan sumber daya manusia unggul, sekaligus menegaskan identitas UHT sebagai Kampus Laut Biru –
Excellent in Maritime Education.